Bangun Smelter Manyar, Freeport Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik

Ke depannya, permintaan tembaga dunia akan semakin banyak, seiring peningkatan permintaan kendaraan listrik dan pengembangan pembangkit listrik berbasis EBT.

Jakarta, CNN Indonesia

PT Freeport Indonesia (PTFI) membangun smelter tembaga dengan design single line terbesar di dunia, yang akan menjadi bagian dari ekosistem kendaraan listrik.

Direktur Utama PTFI Tony Wenas mengatakan, hal itu sejalan dengan komitmen perusahaan untuk mendukung agenda percepatan pengembangan industri hilir dan transformasi ekonomi nasional. Tony menegaskan, PTFI akan terus memastikan kesinambungan pembangunan Smelter Manyar.

“Komitmen ini juga diperkuat dengan agenda pemerintah untuk menciptakan ekosistem electric vehicle (EV) yang terintegrasi dan membutuhkan lebih banyak tembaga dari dalam negeri,” kata Tony dalam kunjungan di lokasi Smelter Manyar di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur pada Jumat (13/1).

Adapun pembangunan smelter juga sebagai antisipasi tren peralihan ke moda transportasi tenaga listrik rendah emisi. Ke depannya, permintaan tembaga dunia disebut semakin banyak, seiring peningkatan permintaan kendaraan listrik dan pengembangan pembangkit listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT).

Terlebih, lanjut Tony, 65 persen kebutuhan tembaga dunia adalah untuk menghantarkan listrik. Dia yakin, konsumsi tembaga untuk kendaraan listrik dan energi terbarukan akan meningkat pesat.

“65 persen tembaga di dunia digunakan pada aplikasi penghantar listrik. Kendaraan listrik menggunakan tembaga empat kali lebih banyak dibandingkan kendaraan konvensional, dan teknologi energi terbarukan menggunakan tembaga empat sampai lima kali lebih banyak dibandingkan pembangkit listrik berbahan bakar fosil,” ujar Tony.

Pada akhir Desember 2022, Smelter Manyar telah mencapai progres konstruksi 51,7 persen, dengan biaya investasi sebesar US$1,63 miliar atau setara Rp25 triliun dari total investasi sebesar US$3 miliar atau sekitar Rp42 triliun. Capaian ini sesuai dengan kurva-S dari rencana kerja proyek yang telah disetujui pemerintah.

“Walaupun aktivitas ini sempat terhalang oleh pandemi, saat ini kami telah mencapai kemajuan yang sangat signifikan. Konstruksi fisik akan seluruhnya selesai pada akhir 2023, yang dilanjutkan dengan pre-commissioning dan commissioning pada awal 2024, dan akan mulai produksi pada bulan Mei 2024,” kata Tony.

Untuk diketahui, Smelter Manyar memiliki kapasitas produksi 1,7 juta dry metric ton (dmt) konsentrat tembaga per tahun, dan akan menghasilkan 600 ribu ton katoda tembaga per tahun.

(rea)




Sumber: www.cnnindonesia.com