Banyak SPBU Dijual Online di 2023, Diobral Rp30 M Hingga Rp247 M

Di situs jual-beli online banyak ditemukan tawaran penjualan SPBU. Rentang harga yang ditawarkan Rp30 miliar hingga Rp247 miliar.

Jakarta, CNN Indonesia

Banyak stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dijual di akhir 2022 menuju 2023. Fenomena ini banyak ditemui di berbagai situs jual-beli online.

Dalam pantauan CNNIndonesia.com, Rabu (4/1), situs jual beli OLX menampilkan beberapa iklan penjualan SPBU. Di wilayah Jakarta, muncul informasi penjualan SPBU di Tanjung Priok, Duren Sawit, Menteng, Kebon Jeruk, hingga Mampang Prapatan.

SPBU di Tanjung Priok, Jakarta Utara, dipatok Rp35 miliar. Lalu SPBU yang Duren Sawit, Jakarta Timur, ditawarkan seharga Rp30 miliar, sedangkan SPBU di Menteng, Jakarta Pusat, mencapai Rp120 miliar.

Sementara itu, SPBU di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, dibanderol Rp70 miliar dan di yang Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, harganya menembus Rp247 miliar.

“Dijual lahan bonus SPBU Pertamina di Mampang, Jakarta Selatan. Area sangat strategis, SPBU selalu ramai pengunjung. Lahan sangat cocok untuk usaha food and beverages (FnB), restoran, hotel, perkantoran, RS, atau tetap dijadikan SPBU,” tulis deskripsi iklan di OLX.

Tak kalah banyak, penjualan SPBU Pertamina secara online juga merambah ke situs jual beli Lamudi. Ada beberapa penawaran yang muncul dengan kisaran harga puluhan miliar rupiah.

Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) DPD III Juan Tarigan buka suara terkait fenomena tak biasa tersebut.

Menurutnya, pengeluaran investasi SPBU cukup besar, terutama untuk pajak bumi dan bangunan (PBB). Besarnya pengeluaran tersebut membuat balik modal dari bisnis SPBU semakin lama.

“Kalau dibandingkan antara profit dengan kewajiban yang harus dikeluarkan oleh pengusaha khususnya PBB, memang (investasi SPBU) sudah tidak begitu menarik,” katanya, Rabu (4/1), dikutip dari detikcom.

Juan menjelaskan besaran investasi SPBU tergantung dari daerah atau lokasi. Menurutnya, untuk investasi SPBU, di luar tanah, sekitar Rp6 miliar hingga Rp10 miliar.

Dengan modal tersebut, investasi SPBU dulunya bisa balik modal sekitar 8 sampai 10 tahun. Namun, Juan memperkirakan balik modal bisa lebih lama di masa sekarang.

Di lain sisi, Head of Advisory Services Colliers International Indonesia Monica Koesnovagril melihat fenomena SPBU dijual online terjadi karena pertimbangan optimalisasi lahan, terlebih jika lokasinya di tengah kota.

“Kalau kami lihat kan banyak SPBU lokasinya di tengah kota, yang harga tanahnya sudah mahal. Kalau bicara di Jakarta, koefisien lantai bangunan (KLB) sudah naik, secara konsep optimalisasi lahan itu akan optimal dibangun yang lebih high rate,” katanya dalam virtual media briefing Colliers.

[Gambas:Video CNN]

(skt/pta)




Sumber: www.cnnindonesia.com