Deretan Saham Berpeluang Cuan Pekan Ini, Konsumer Bisa Jadi Pilihan

Pengamat merekomendasikan sejumlah saham yang berpotensi menguat pekan ini. Berikut pilihannya.

Jakarta, CNN Indonesia

Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup di level 6.684 pada Jumat (6/1). Indeks saham menguat 30,71 poin atau setara 0,46 persen dari perdagangan sebelumnya.

Dalam sepekan terakhir, IHSG menguat tiga kali dan melemah dua kali. Secara akumulatif, perdagangan melemah 2,43 persen. Tercatat, investor asing melakukan jual bersih (net sell) Rp1,69 triliun selama sepekan.

Pelaksana Harian Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Aulia Noviana Utami Putri mengatakan rata-rata nilai transaksi harian bursa menurun 13,46 persen dari Rp10,74 triliun pada pekan sebelumnya menjadi Rp9,30 triliun.

Kapitalisasi pasar ikut melorot 2,54 persen dari Rp9.499,13 triliun pada pekan sebelumnya menjadi Rp9.258,26 triliun. Kemudian rata-rata volume transaksi harian bursa menurun 15,04 persen dari 19,366 miliar saham menjadi 16,453 miliar saham.

“Meskipun demikian, rata-rata frekuensi transaksi harian Bursa mengalami peningkatan sebesar 22,41 persen, yaitu menjadi 1.104.455 transaksi selama sepekan dari 902.268 transaksi pada sepekan sebelumnya,” terang Aulia, seperti dikutip dari situs IDX, Jumat (6/1).

Analis Pasar Modal Oktavianus Audi memprediksi sepekan depan IHSG berpotensi menguat dalam jangka pendek dengan indikator William %R yang digunakan untuk memberikan sinyal beli dan jual saham, menunjukkan IHSG berhasil keluar dari zona jenuh jual pada akhir pekan lalu.

“Terdapat resistance terdekat pada level 6.820 dan support di level 6.600,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Minggu (8/1).

Menurutnya, indeks saham pekan ini dipengaruhi oleh penghapusan aturan zero covid di China yang diharapkan dapat menghidupkan kembali aktivitas ekonomi.

Namun di sisi lain, kasus covid yang tidak transparan di China memberikan gambaran yang tidak cukup meyakinkan investor akan ekonomi di negara tersebut. Kondisi perekonomian China disebut akan berpengaruh ke Indonesia.

Selain itu, pergerakan emiten juga akan dipengaruhi normalisasi harga komoditas yang disebabkan meningkatnya sentimen perlambatan ekonomi dan resesi global, seperti minyak mentah yang kembali turun di bawah US$80 per barel.

Rilis data inflasi (Amerika Serikat) AS pada Desember 2022 yang diperkirakan kembali turun dibandingkan bulan sebelumnya ke level 5,7 persen secara konsensus juga akan memengaruhi IHSG pekan ini.

“Ini merupakan sentimen positif karena memberikan gambaran kepada The Fed untuk bisa lebih dovish pada awal 2023 ini,” ujar Oktavianus.

Menurutnya, investor dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk spekulasi beli jika terjadi technical rebound dalam jangka pendek dan IHSG berhasil mempertahankan level 6.600 yang menjadi support saat ini.

Beberapa sektor yang ia rekomendasi mencakup sektor konsumer dan sektor bahan baku (basic materials) menjadi sektor defensif di tengah kekhawatiran ekonomi pada tahun ini.

Untuk sektor konsumer, ia merekomendasi PT Indofood Sukses Makmur Tbk atau INDF yang menguat 1,46 persen ke level 6.950 pada pekan lalu. Ia memprediksi INDF dapat menyentuh level 7.200 pekan ini.

Lalu, ada juga PT Unilever Indonesia Tbk atau UNVR yang ditutup menguat 0,63 persen ke posisi 4.760. Ia memprediksi UNVR akan menyentuh 4.950 pekan ini.

Sedangkan di sektor basic materials, ada PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang ditutup menguat 4,46 persen pada pekan lalu ke posisi 820. Oktavianus memprediksi BRPT dapat menyentuh level 890.

Ia juga merekomendasikan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk atau INKP yang ditutup menguat 3,60 persen ke posisi 8.625. Ia memprediksi INKP dapat menyentuh posisi 9.300.

Bersambung ke halaman berikutnya…

IHSG Berpotensi Melemah

BACA HALAMAN BERIKUTNYA



Sumber: www.cnnindonesia.com