Dow Jones Newswires Bakal PHK Karyawan Global

Dow Jones Newswires berencana melakukan PHK terhadap sejumlah karyawannya di tingkat global.

Jakarta, CNN Indonesia

Dow Jones Newswires, anak usaha News Corp yang mencakup outlet berita keuangan Wall Street Journal, Barron’s dan MarketWatch, berencana melakukan PHK terhadap sejumlah karyawannya.

Dalam sebuah pernyataan, juru bicara Dow Jones mengatakan bahwa “Beberapa tim telah mengatur ulang sebagian untuk menyelaraskan dengan prioritas kami dan memposisikan kami untuk pertumbuhan lebih lanjut dan posisi tertentu telah dihilangkan”.

Sementara IAPE, serikat pekerja yang mewakili karyawan Dow Jones mengatakan bahwa mereka saat ini tidak mengetahui jumlah total pekerja, lokasi kerja, dan departemen dari karyawan yang terkena PHK.

Namun, PHK disebut terjadi secara global sehingga karyawan di luar Amerika Serikat juga terkena dampaknya.

Melansir Reuters, Kamis (11/1), direktur IAPE untuk Amerika Serikat Tenggara mengatakan kepada karyawan Dow Jones yang diwakili serikat pekerja di Washington, D.C bahwa perusahaan belum menjelaskan sejauh mana PHK dilakukan.

Kendati demikian, pemangkasan karyawan disebut tidak terjadi di Wall Street.

Kabar tentang rencana PHK di Dow Jones muncul di tengah rencana pemangkasan karyawan di outlet berita lain, termasuk Washington Post. Menurut laporan Challenger, Gray & Christmas, industri berita mengumumkan 1.800 PHK tahun lalu, naik 20 persen dari 1.500 pada 2021.

Tak hanya industri media, perusahaan teknologi juga mengalami gelombang PHK. Perusahaan teknologi yang berada di Silicon Valley bahkan diprediksi makin memburuk pada tahun ini, ditandai dengan tidak adanya perekrutan hingga PHK besar-besaran.

Mengutip CNN Business, Selasa (10/1), CEO Amazon Andy Jassy pada pekan lalu mengumumkan perusahaannya memangkas lebih dari 18 ribu pekerja, hampir dua kali lipat dari yang sebelumnya dilaporkan sebanyak 10 ribu pekerja.

Keesokan harinya, platform mode digital Stitch Fix mengatakan berencana untuk memotong 20 persen dari staf bergaji, setelah memotong 15 persen dari staf bergaji tahun lalu.

Kondisi tersebut dipicu oleh permintaan yang menurun seiring longgarnya aturan covid-19, dan orang-orang kembali ke kehidupan normal.

Selain itu, kondisi itu diperburuk pada ancaman resesi di 2023, dan ketidakpastian ekonomi masih membebani pikiran konsumen dan pembuat kebijakan. Kenaikan suku bunga pun diperkirakan akan terus berlanjut.

Laporan perusahaan outplacement Challenger, Gray & Christmas menemukan PHK teknologi naik 649 persen pada 2022 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sedangkan PHK dalam ekonomi secara keseluruhan selama periode yang sama hanya 13 persen.

[Gambas:Video CNN]

(fby/sfr)

[Gambas:Video CNN]




Sumber: www.cnnindonesia.com