Goldman Sachs Prediksi Minyak Melesat ke US$105 per Barel Tahun Ini

Harga minyak terperosok lebih dari tiga persen pada akhir perdagangan Kamis (17/11), waktu Amerika Serikat (AS).

Jakarta, CNN Indonesia

Goldman Sachs memperkirakan meningkatnya kemampuan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk menaikkan harga tanpa terlalu banyak menekan permintaan akan membatasi potensi penurunan harga minyak dunia tahun ini.

Bank investasi asal Amerika Serikat (AS) itu memprediksi pertumbuhan permintaan minyak global sebesar 2,7 juta barel per hari pada 2023.

Kondisi itu mendorong pasar mengalami defisit pada paruh kedua dan menaikkan harga minyak Brent menjadi US$105 per barel pada kuartal keempat tahun ini.

OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, sebelumnya setuju untuk tetap berpegang pada rencana Oktober lalu untuk memangkas produksi sebesar 2 juta barel per hari dari November hingga 2023.

“Namun, jika pasar ternyata lebih lemah, maka OPEC dapat mempertahankan pemotongan Oktober atau memangkas produksi lebih jauh mengingat kekuatan harga yang signifikan,” kata Goldman Sachs, dikutip Reuters, Selasa (12/1).

Kekuatan harga OPEC tumbuh “luar biasa tinggi” dalam beberapa tahun terakhir dengan pembentukan OPEC+, yang meningkatkan pangsa pasar blok 13 negara dengan sekutu penghasil minyaknya.

Selain itu, pasokan alternatif untuk OPEC, seperti AS, bergulat dengan elastisitas harga yang rendah dan kapasitas cadangan yang terbatas, sementara permintaan tetap sedikit berubah di pasar energi global yang berebut untuk mengganti minyak.

Sementara itu, analis ING Ewa Manthey memperkirakan tahun ini minyak masih diwarnai ketidakpastian. Pasalnya, investor pada 2023 ia perkirakan terus mengambil pendekatan yang hati-hati karena mewaspadai kenaikan suku bunga dan kemungkinan resesi.

“Banyak volatilitas yang terjadi,” katanya.

Di sisi lain, analis dari Again Capital LLC di New York John Kilduff mengatakan permintaan dan pertumbuhan permintaan minyak masih akan jadi pertanyaan investor usai sejumlah bank sentral secara agresif menaikkan bunga acuan demi menanggulangi lonjakan inflasi yang terjadi belakangan ini.

Sementara itu, sebuah survei terhadap 30 ekonom dan analis memperkirakan harga minyak Brent tahun ini mencapai rata-rata US$89,37 per barel atau 4,6 persen lebih rendah dari konsensus dalam survei November.

Lalu, harga minyak mentah AS diproyeksikan rata-rata US$84,84 per barel pada 2023, turun dari pandangan ekonom sebelumnya.

[Gambas:Video CNN]

(fby/sfr)




Sumber: www.cnnindonesia.com