Menteri Investasi Ingat Perintah Jokowi ke WTO: Mas Bahlil Lawan!

Menteri Investasi Bahlil Lahadalia menceritakan ketika Indonesia dibawa ke sidang WTO usai melarang ekspor nikel mentah pada awal 2020.

Jakarta, CNN Indonesia

Menteri Investasi Bahlil Lahadalia menceritakan ketika Indonesia dibawa ke sidang World Trade Organization (WTO) usai melarang ekspor nikel mentah pada awal 2020. Kala itu, sejumlah negara yang merasa dirugikan dengan kebijakan ini menuntut ke WTO dan pada tahap pertama Indonesia dinyatakan kalah.

Bahlil mengaku Presiden Joko Widodo meminta agar dirinya melawan sampai menang di sidang WTO.

“Bahwa Pak Presiden meski kalah di WTO tahap pertama, Pak Presiden memerintahkan ‘Mas Bahlil lawan!’ dan di rapat kabinet (semuanya) disuruh hadapi, dan kita hadapi, nggak boleh (menyerah),” kata Bahlil di CNN Indonesia TV, Jumat (6/1).

Menurutnya, selama ini masih banyak negara maju yang tidak suka dengan keinginan Indonesia untuk melakukan hilirisasi. Sebab, ketika hilirisasi dilakukan maka akan tercipta nilai tambah dan produk yang diekspor menjadi lebih mahal.

“Begitu kita melakukan ekspor nikel, Eropa nggak setuju. Kita dibawa ke WTO, memang negara-negara ini nggak suka kita maju. Padahal pintu keluar untuk memajukan negara ini adalah hilirisasi, dan kita lawan,” tutur Bahlil.

Selain itu, menurutnya, Jokowi juga meminta kepada para menterinya untuk tidak takut dengan negara manapun. Pasalnya, saat ini semua negara berdiri setara. Ia pun menyinggung menteri-menteri di jajaran kabinet Presiden Jokowi saat ini adalah pengusaha yang tidak lagi bisa ditipu.

“Nggak boleh ada negara yang mendikte negara kita. Memang kita takut apa? Indonesia sudah waktunya tidak ditakut-takuti oleh cara-cara lama. Menteri-menterinya ini pengusaha semua, jadi nggak bisa ditipu-tipu,” ucapnya.

Bahlil pun mengungkapkan nantinya produk yang di hilirisasi tidak hanya nikel atau produk minerba, tetapi juga minyak dan gas, pangan, dan perikanan.

“Penciptaan nilai tambah itu hanya bisa dilakukan lewat hilirisasi. Dan jujur saya katakan, negara-negara besar itu tidak ikhlas dan belum merelakan negara-negara berkembang untuk mengelola hasil sumber daya alam untuk menciptakan nilai tambah,” tegasnya.

[Gambas:Video CNN]

(cfd/dzu)




Sumber: www.cnnindonesia.com