Profil Zang Hongchaio, Pendiri Mixue yang Es Krimnya Laris Manis di RI

Mixue yang gerai es krimnya kian menjamur di RI didirikan Zhang Hongchaio awal 1997 dengan modal Rp9 juta dari pinjaman sang nenek.

Jakarta, CNN Indonesia

Mixue ramai dibicarakan karena gerai es krimnya yang semakin banyak di Indonesia. Sejak pertama kali masuk ke Indonesia pada 2022 lalu, Mixue telah memiliki 300 gerai di sejumlah daerah di Indonesia.

Melansir Foodtalks, Rabu (28/12), Mixue pertama kali didirikan oleh Zhang Hongchaio pada 1997. Modal awal untuk membangun bisnis itu adalah sebesar 4.000 yuan atau setara Rp9 juta (asumsi kurs Rp2.252 per yuan), yang ia pinjam dari sang nenek.

Karena modal awal yang terbatas, peralatan toko juga sangat sederhana, hanya dengan lemari es, beberapa bangku, dan meja lipat. Hongchaio yang saat itu masih menjadi mahasiswa memulai bisnis Mixue dengan menjual es serut es krim, dan smoothie. Setelah bisnis berangsur-angsur membaik, Hongchao mulai menjual milk tea.

Seiring berjalannya waktu, bisnis Mixue pun berkembang. Pada 2007, Zhang Hongchao membuka hak waralaba. Tahun itu, lusinan toko dibuka dengan cepat di Provinsi Henan, tempat kantor pusat berada.

Mixue Bingcheng secara resmi didirikan sebagai sebuah perusahaan pada 2008 dengan jumlah toko waralaba melebihi 180. Lalu, pada 2010 Mixue Bingcheng memilih untuk bekerja sama dengan Zhengzhou Baodao Trading Co., Ltd. untuk mengembangkan waralaba di seluruh negeri.

Dua tahun setelahnya, Mixue Bingcheng mulai membangun pabrik pusat untuk menguasai rantai pasok dan mencapai swasembada. Kemudian pada 2014, perusahaan mendirikan pusat logistik di Kota Jiaozuo, Provinsi Henan, untuk mengirimkan materi gratis kepada seluruh cabang.

Dengan pusat pergudangan dan logistiknya sendiri, siklus transit Mixue Bingcheng telah dipersingkat dan biaya inventaris serta biaya penyimpanan bisa dipangkas. Hal ini menjadikannya merek minuman pertama di China yang pengiriman logistiknya gratis.

Mixue BingCheng juga melalui upayanya sendiri untuk membuka jalur pengadaan bahan baku, area produksi teh, dan pabrik produksi bahan baku. Oleh karena itu, biaya bahan bakunya sekitar 20 persen lebih rendah daripada kompetitor.

Pada titik ini, dari bahan mentah hingga logistik, dan kemudian ke toko waralaba, lingkaran tertutup bisnis milik Mixue Bingcheng telah resmi dibentuk. Pengoperasian langsungnya dengan model waralaba juga dengan cepat membuka pasar baru.

[Gambas:Video CNN]

(fby/agt)

[Gambas:Video CNN]




Sumber: www.cnnindonesia.com