Rupiah Diramal Lesu Sepanjang 2023

Sejumlah analis meramal rupiah masih lesu tahun ini. Hal itu dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi dan perkembangan situasi geopolitik.

Jakarta, CNN Indonesia

Ketidakpastian global di 2022 membuat rupiah bergejolak, bahkan sempat menembus level Rp15.739 per dolar AS atau terlemah sejak April 2020. Tahun ini, sejumlah analis meramal rupiah masih lesu.

Senior Analis DCFX Lukman Leong memproyeksi dolar AS bakal tetap kuat di tahun ini. Resesi dan perlambatan ekonomi global membuat investor lebih tertarik melirik mata uang safe haven, seperti dolar AS, franc Swiss, dan yen Jepang.

“Namun, rupiah berpotensi didukung oleh harapan pada pembukaan kembali ekonomi di China,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (2/1).

Kendati, Lukman menilai ketidakpastian ekonomi dan perkembangan situasi geopolitik bakal menekan aset dan mata uang berisiko, termasuk rupiah. Ia menyoroti perang Rusia-Ukraina yang belum usai dan tensi tinggi China, Taiwan, serta AS.

Sepanjang 2022, Lukman melihat rupiah melemah kurang lebih 9 persen terhadap dolar AS. Pemicunya adalah penguatan dolar AS imbas kebijakan kenaikan suku bunga agresif The Fed dalam memerangi inflasi.

Sementara itu, ia melihat Indonesia yang mencatat inflasi lebih rendah membuat Bank Indonesia (BI) tidak terlalu agresif menaikkan suku bunga acuan.

“Hal ini membuat imbal hasil obligasi Indonesia menjadi kurang menarik dan dihindari investor. Namun, seiring dengan inflasi Indonesia yang mulai menanjak, BI menaikkan suku bunga,” jelasnya.

Meski begitu, investor menganggap respons BI telat karena tekanan inflasi secara global sudah mendekati puncak. Setelah itu, kekhawatiran beralih kepada perlambatan ekonomi global.

Senada, Peneliti Makro Ekonomi dan Pasar Keuangan LPEM UI Teuku Riefky melihat pergerakan rupiah sepanjang 2022 yang semula cukup stabil tertekan oleh kebijakan agresif The Fed.

Pengetatan suku bunga di level global menyebabkan arus modal keluar atau capital outflow yang membuat depresiasi nilai tukar dari berbagai mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Di 2023 kami harapkan agresivitas pengetatan suku bunga moneter global ini sudah relatif mulai melambat. Kami harapkan depresiasi sudah mulai tidak sekencang 2022, bahkan mungkin bisa mengarah ke apresiasi mata uang rupiah,” proyeksi Riefky.

Namun, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal memprediksi nasib rupiah pada 2023 akan mulai membaik.

“Rupiah dalam beberapa bulan terakhir melemah cukup cepat, tapi sejalan dengan prediksi pengetatan moneter dan inflasi yang lebih rendah dibandingkan tahun ini, maka tekanan terhadap rupiah dan capital outflow yang berkaitan dengan nilai tukar rupiah akan lebih rendah tahun depan,” katanya dalam CORE Economic Outlook 2023: Harnessing Resilience against Global Downturn, Rabu (23/11).

Sementara itu, Gubernur BI Perry Warjiyo optimistis nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS pada tahun ini. Keyakinan itu berlandaskan prediksi ekonomi global yang berangsur pulih.

Perry menyoroti penguatan dolar AS menjadi akar pelemahan nilai tukar rupiah. Hal itu ditambah dengan kebijakan agresif The Fed dalam menaikkan suku bunga acuan.

“Kami perkirakan nilai tukar rupiah ke depan akan cenderung menguat. Sekarang rupiah melemah karena dolarnya sangat kuat dan The Fed masih akan menaikkan suku bunga mungkin sampai kuartal I, setelah itu akan tinggi, tapi ketidakpastian global akan menurun,” jelasnya dalam Outlook Perekonomian Indonesia 2023, Rabu (21/12).

Jika ketidakpastian global menurun, Perry yakin rupiah akan cenderung bergerak ke arah fundamental di mana pertumbuhan ekonomi tinggi, inflasi yang rendah, dan ditopang dengan berbagai perspektif keuangan yang baik.

“Kami yakin tahun depan begitu ketidakpastian global mereda, nilai tukar rupiah akan menguat kembali ke fundamentalnya. Fundamental faktor akan lebih dominan,” tegasnya.

[Gambas:Video CNN]

(skt/sfr)




Sumber: www.cnnindonesia.com